Diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak. Meskipun sebagian besar kasus dapat membaik dengan perawatan yang tepat, diare perlu mendapat perhatian karena kehilangan cairan dan elektrolit dapat menyebabkan dehidrasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa diare masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak, terutama anak di bawah lima tahun.
Apa yang dimaksud dengan diare?
Diare adalah kondisi ketika anak buang air besar dengan konsistensi tinja yang lebih encer atau cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari, atau lebih sering dibandingkan pola buang air besar normal pada anak tersebut. Pada bayi yang mendapat ASI, tinja yang memang secara normal lebih lunak atau lebih sering tidak selalu berarti diare.
Diare pada anak paling sering disebabkan oleh infeksi saluran pencernaan. Penyebabnya dapat berupa virus, bakteri, maupun parasit. Penularan dapat terjadi melalui makanan atau air yang terkontaminasi serta tangan yang tidak bersih. Rotavirus merupakan salah satu penyebab penting diare pada anak.
Mengapa diare berbahaya bagi anak?
Bahaya utama diare adalah dehidrasi atau kekurangan cairan. Saat diare, tubuh kehilangan air dan elektrolit melalui tinja yang cair. Risiko dehidrasi semakin besar jika anak juga mengalami muntah, sulit minum, atau kehilangan cairan dalam jumlah banyak.
Deteksi Dini: Level Dehidrasi pada Anak
Gunakan tabel referensi praktis ini untuk memantau kondisi fisik anak di rumah:
| Gejala Fisiologis | Tanpa Dehidrasi | Dehidrasi Ringan–Sedang | Dehidrasi Berat |
|---|---|---|---|
| Kondisi Umum | Aktif, sadar penuh | Rewel, gelisah, haus | Lemas, mengantuk, tidak sadar |
| Kondisi Mata | Normal | Cekung | Sangat cekung |
| Air Mata | Ada | Sedikit / tidak ada | Tidak ada sama sekali |
| Kekenyalan Kulit Perut | Kembali cepat | Kembali lambat | Kembali sangat lambat (>2 detik) |
5 Langkah Tuntaskan Diare (LINTAS Diare)
Sesuai standar Kemenkes RI dan IDAI, lakukan lima pilar pengobatan di rumah:
1. Oralit Osmolaritas Rendah
Oralit atau oral rehydration solution (ORS) merupakan cairan yang mengandung air dan elektrolit untuk menggantikan cairan yang hilang selama diare. Berikan segera setiap kali anak BAB cair untuk mencegah dehidrasi.
2. Suplementasi Zinc
Berikan selama 10 hari berturut-turut meski diare sudah berhenti.
Dosis: usia <6 bulan = 10 mg/hari; usia >6 bulan = 20 mg/hari.
3. Teruskan ASI & Makanan
Jangan mempuasakan anak; nutrisi tetap dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan dinding usus. Pilih makanan yang mudah dikonsumsi anak dan tetap berikan cairan yang cukup. Jika anak sulit makan, berikan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering.
4. Antibiotik Selektif
Jangan memberikan antibiotik sembarangan. Sebagian besar diare akut pada anak tidak memerlukan antibiotik. Antibiotik hanya diberikan pada kondisi tertentu berdasarkan penilaian tenaga kesehatan, misalnya pada dugaan infeksi bakteri tertentu atau kondisi khusus lainnya. IDAI menekankan bahwa antibiotik tidak diberikan secara rutin pada diare akut.
5. Edukasi Orang Tua
Pahami tanda bahaya kritis untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan.
Produk Penanganan Diare Anak di Acehat.id
Berikut produk-produk pilihan yang tersedia di Acehat.id sesuai rekomendasi LINTAS Diare:
Oralit
- Pharolit Serbuk Oralit 60 Sachet – Oralit siap pakai dalam kemasan praktis sachet
- Oralit 200 4.1 g 1 Sachet – Oralit formula standar WHO
Zinc untuk Anak
- Zincpro Syrup 60 ml – Suplemen zinc dalam bentuk sirup, cocok untuk anak
- Daryazinc Syrup – Zinc sirup untuk mendukung pemulihan diare
Probiotik
- Lacto-B Sachet – Probiotik untuk membantu memulihkan flora usus anak
Semua produk di atas tersedia di apotek mitra Acehat.id dan dapat dipesan secara online. Konsultasikan dosis dan penggunaan dengan apoteker kami.
Bagaimana mencegah diare pada anak?
Pencegahan diare dapat dilakukan melalui kebiasaan hidup bersih dan sehat, antara lain:
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah menggunakan toilet, dan setelah membersihkan anak yang buang air besar.
- Pastikan anak mendapatkan air minum yang bersih.
- Jaga kebersihan makanan dan peralatan makan.
- Gunakan fasilitas sanitasi yang baik.
- Berikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan dan lanjutkan pemberian ASI sesuai rekomendasi.
- Pastikan imunisasi anak lengkap, termasuk vaksin rotavirus sesuai jadwal yang berlaku.
- Ajarkan anak kebiasaan menjaga kebersihan diri sejak dini.
Tanda Bahaya: Kapan Harus ke Dokter?
Segera bawa anak ke rumah sakit atau puskesmas terdekat jika ditemukan salah satu tanda berikut:
- Anak malas minum atau tidak bisa menelan cairan.
- Anak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi berat.
- Buang air besar berdarah.
- Muntah terjadi terus-menerus.
- Demam tinggi yang sulit turun.
- Diare memburuk atau tidak membaik dalam 3 hari.
Jangan panik, pastikan Anda memahami langkah penanganan yang tepat dan berbasis ilmiah.
Kesimpulan
Diare pada anak umumnya dapat ditangani dengan baik apabila dilakukan secara tepat dan cepat. Kunci utama penanganannya adalah mencegah dehidrasi dengan oralit, melanjutkan ASI dan pemberian makanan, serta memberikan zinc sesuai anjuran. Antibiotik tidak boleh diberikan sembarangan karena tidak semua diare disebabkan oleh bakteri.
Orang tua juga perlu mengenali tanda bahaya. Anak yang mengalami dehidrasi berat, tidak mampu minum, sangat lemas, mengalami penurunan kesadaran, atau memiliki darah dalam tinja perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Sumber
- World Health Organization (WHO) – Diarrhoeal disease
- WHO – Zinc supplementation in the management of diarrhoea
- UNICEF – Oral rehydration salts (ORS) and zinc
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) – Bagaimana Menangani Diare pada Anak
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) – Masalah Saluran Cerna Anak: Penyebab dan Mengatasinya
Catatan: Artikel ini ditujukan sebagai edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh dokter, terutama jika anak menunjukkan tanda dehidrasi atau tanda bahaya.
Dikurasi oleh Tim Apoteker Acehat.id | Terakhir diperbarui: Agustus 2026